Sekalaniskala’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

    Advertisements
  • Categories

  • Archives

Jinakkan Liarnya Indria

Posted by sekalaniskala on January 15, 2008

Tapa brata, yoga, dan samadhi sering diidentikkan dengan orang yang memburu kesaktian atau sedang melakoni kawuruhan (kesaktian) itu. Namun, ada makna yang sangat sederhana yang sesungguhnya menjadi inti dari laku tersebut.

Penguasaan tapa brata secara baik dan benar  akan meningkatkan kemampuan spiritual serta kegaiban  bagi penekunnya. Tapi,  tentu bukan selalu kesaktian yang menjadi tujuan utama.
Ketua Yayasan Pengajaran yang bergerak di bidang agama, IB Adriana mengatakan, pahala (hasil) dari penekunan tapa brata bukan tujuan  dari proses  penekunan itu. Karena   bagi orang yang melakukannya telah mengerti tujuan dan konsep tapa  brata itu. “Brata pengertianya adalah aturan, pantangan atau puasa,” terangnya.
Dari pemahaman sederhana itu  bisa diketahui, orang yang melakukan pabratan dapat disimpulkan sedang melaksanakan aktivitas pantangan atau puasa untuk tujuan tertentu. Tujuan mabrata bukan pahala yang dijanjikan setelah melakukan pabratan itu, melainkan pengendalian diri.
Dalam prakteknya, seseorang tidak secara langsung melaksanakan yoga-semadhi, melainkan  melalui proses atau tahapan, di antaranya penyiapan kondisi batin yang sangat menentukan. Mereka yang masih dalam tahap persiapan ini, tentu belum layak disebut sadhaka apalagi yogi. Mereka  ini lebih tepat disebut tapasvin atau brati  atau mereka yang akan melaksanakan tapa brata.
Cepat atau lambatnya seorang calon sadhaka menyelesaikan sadhana persiapan ini, sangat tergantung pada karma wesananya. Manakala ada yang sedemikian buruknya atau tebalnya, dia bahkan dapat melakukan persiapan saja hingga akhir hayatnya, atau gugur dan mengundurkan diri. Memang, tak dapat dipungkiri bila tapa atau pun brata itu dilakukan dengan tekun akan menghasilkan pelakunya menjadi sakti dan mengundang kekaguman khalayak.  Bahayanya, bila kemampuan  menjadi salah arah dan mempertebal keangkuhan serta sikap suka pamer, ujung-ujungnya adalah popularitas. Di mana kelebihan serta popularitas itu pula dilakukan untuk mencari pengikut atau pemuja, apalagi orang awam masih sangat tertarik dengan model kesaktian semacam kekebalan dan lainnya. Sangat berbeda dengan orang yang tujuan awalnya menekuni yoga, bukan mencari kesaktian. 
Pikiran menjadi sakti diri  lewat mabrata, tentu  anggapan orang yang masih lemah dan awam. Ini membuktikan   adanya orang  yang mudah terkecoh oleh penampakan kasat indria untuk mempercayainya sebagai ‘kesujatian’.
IB Adriana menambahkan,yoga dan semadhi bukanlah sekadar metode untuk meraih kesaktian, kanuragan atau kadigjayan. Ia adalah jalan suci menuju penyucian batin. Walau mereka yang berbatin suci juga menampakkan beberapa keajaiban, toh keajaiban (kegaiban) itu hanya dampak lain dari penekunnya.  Kekeliruan dalam memandang hal ini dapat berakibat fatal, sejauh kesaktian masih merupakan godaan yang paling dahsyat bagi sang calon yogi. lan, berbagai sumber

Jangan Siksa Diri
Mabrata dianggap sebuah bentuk lain dari penyiksaan diri. Sebab, tindakan ini melalaikan atau menolak zat-zat yang dipentingkan tubuh secara wajar, seperti makanan dan minuman. Selain itu, anggapan  ‘penyiksaan’ itu bisa dikatakan benar  karena mabrata  juga berlaku pada tindakan selain makan dan minum, di antaranya  tak melakukan  hubungan seks  dan mengendalikan bentuk-bentuk emosi lainnya, seperti kemelekatan dan cinta.
Umumnya, orang merasa menciptakan problema mental pada dirinya sendiri dengan melakukan brata ini. 
Tapi,tak begitu halnya bagi kalangan penekun spiritual yang telah dengan tekun menjalankan ajaran agama. Bagai penekun  spiritual sejati, indria tidaklah untuk dianiaya atau pun dibunuh. Sebaliknya, indria ini tak pula dimanjakan dan digemukkan. Apa yang sebenarnya dilakukan dalan bentuk puasa adalah memberdayakan indria agar tak menjadi liar dan memburu nafsu keduniawiannya.
Untuk dapat memahami signifikansi dari penahanan diri–kalau tak mau dikatakan sebagai penyiksaan diri–, seseorang haruslah mengambil hikmah yang lebih komprehensif terhadap yang dilakukannya.
Indria hendaknya dioperasikan di bawah pengawasan kesadaran yang bijak. Walau tampak tapa brata seperti pengabaian indria. Namun, sejatinya melalui penahanan diri akan dicapai kesenangan yang jutaan kali lebih besar untuk memuluskan kesucian dan jalan menuju Tuhan. Manakala seseorang menyadari fakta ini, dia akan mengerti bagaimana seorang penekun yoga tidaklah merasakan penahanan diri ini sebagai suatu kepahitan atau represi paksaan yang tidak dikehendakinya.
 “Pada awalnya puasa (brata) ini memang merupakan suatu penyiksaan diri, bagi yang menganggapnya begitu. Tapi bila semuanya dilakukan dengan kesadaran, maka tak akan ada rasa penyiksaan itu,” bebernya.
Baginya, sebagai manusia memang sepantasnya melakukan pengendalian indria agar tak menjadi liar dan bisa mencapai kesucian. Hidup itu  seperti kereta dan kudanya yang berjumlah lima. Jadi tak satu pun kuda itu seharusnya berjalan menyimpang sehingga dapat berjalan dengan lurus. Untuk mencapai kesucian lahir dan batin perlu ada upaya yang harus dilakukan secara terus menerus melalui tapa atau brata. Dua  laku  ini merupakan cara untuk mengendalikan pikiran dan indria itu. Pikiran harus diusahakan agar berpikir baik, demikian pula kata-kata yang diucapkan dan tak kalah pentingnya tingkah laku juga harus diperhatikan.
Pengertian brata tersebut agak luas, tak hanya pada pengendalian atau pengekangan terhadap makanan saja.  Yoga merekomendasikan pemanfaatan  tapa brata sebagai daya yang mengagumkan dengan tidak menyianyiakan indria. Namun, brata  itu dikembangkan  dan dimanfaatkan sebesar mungkin lebih tinggi, lebih halus untuk kesejahteraan sosial, penemuan-penemuan, kemajuan dunia sains dan pada akhirnya bermuara pada berkembangnya intuisi.
Potensialitas brata seseorang  yang tak terbatas, meski ditempa demi kebaikan yang lebih luhur. Dan, tidak diizinkan untuk terperangkap di dalam jerat kesenangan sesaat secara memalukan dan bersifat kebinatangan.
Melihat sudut pandang ini, penekun tapa brata tidaklah dianjurkan untuk menganiaya, apalagi merusak indria-indrianya. Tapi, benar-benar memperkuatnya untuk memfungsikannya demi kebaikan. Sebaliknya, pemborosan dengan membiarkannya indria liar, sebetulnya menyebabkan kerusakan padanya. Karenanya, pada satu jenjang dan tingkatan, pengendalian diri religius yang ketat menjadi sangat bermanfaat bagi kemajuan dalam pendakian spiritual.  Jadi, brata dapat diartikan sebagai ketaatan pada sumpah spiritual. Baik pada tapa maupun brata tersirat adanya tekad yang kuat untuk menjalankan apa yang dipandang sebagai kebenaran. Secara praktis, tapa tidak dapat dipisahkan pelaksanaannya dengan brata.  lan

Buru Kadyatmikan

Umat  Hindu umumnya mengenal brata (puasa) hanya pada hari-hari tertentu, padahal sejatinya tak begitu adanya. Sebab, bila ‘penahanan’ diri dilakukan untuk tujuan kemuliaan  atau linuwih, pasti berbeda masalahnya.
Biasanya, pabratan itu memang harus dilakukan saat tertentu. Untuk pabratan jenis ini (saat-saat tertentu) berbagai cara dilakukan orang untuk memenuhinya agar apa yang menjadi tujuan dalam brata tersebut tercapai.
Dalam lontar Aji Pabrataan yang dimiliki salah seorang penekun lontar IB Adriana, ada banyak jenis pabrataan yang bertujuan mendapatkan kemampuan tertentu. Mengenai kapan pabrataan itu dilakukan pun, tergantung dari jenis dan pahala yang didapat dari orang tersebut. Bahkan, untuk soal bau badan yang sangat ditakuti kaum perempuan pun ada dalam lontar tersebut. “Bratanya hanya makan nasi aruan ajumput  selama tujuh kliwon,” ujarnya. Tujuh kliwon dalam kalender Bali ini berarti selama 35 hari. Memang hal itu bias dibilang, bukan puasa mudah. Tapi, bila telah ada kesadaran dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan hasil dari pabrataan itu, maka semuanya pasti dapat dilalui.
Biasanya yang paling disenangi kaum muda, brata yang dapat membuat lawan jenisnya tertarik. Syaratnya, melakukan puasa kosongan alias tak makan apa pun selama 24 jam, setiap purnama Sasih Kasanga. Memang cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk membuktikan hasil dari brata ini. Tapi, hasilnya akan sangat memuaskan karena selain dapat membuat lawan jenis tertarik, juga diyakini bisa untuk mencapai kebahagiaan. “Selain itu, saat meninggal arwah orang yang melakukan pabrataan akan menuju alam Indra, menurut lontar tersebut,” terangnya.
Pahala atau hasil dari pabrataan itu hanyalah sebuah alat, agar seseorang itu melakukan brata yang pada intinya pengendalian indria. “Bila dasar dan tujuan brata itu telah dikuasai, maka pahala bukanlah suatu tujuan,” paparnya. lan

Tak Mesti di Hutan
Apa pun  jenis agama seseorang, tujuan akhirnya pasti demi kebahagiana lahir batin. Praktek keagamaan, bagi orang Hindu berbentuk sradha  untuk mencapai peningkatan moral.
Kitab Yajurweda XIX.30 menyuratkan kesucian atau diksa diperoleh karena melakukan pengendalian indria atau brata.
Brata ini merupakan salah satu bentuk dari tapa. Kalau dilihat dari pengertian tapa, berarti penguasaan atas nafsu hinga melakoni hidup suci. Memang, orang lebih sering mendefinisikan tapa sebagai salah satu kegiatan mengasingkan diri ke suatu tempat sepi untuk menyucikan diri. Tapi, kalau dilihat dari tujuannya yaitu menyucikan diri dan apa yang dilakukan selama itu adalah tak lain dari pengendalian diri serta indria. Maka, antara tapa dan brata sangat dekat sekali hubungannya. Ini juga yang menjadi alasan kenapa kedua kata itu kadang sangat terkait.
Jika mengutip isi dari Sarasamuscaya: 63  diuraikan; Inilah brata bagi Sang Brahmana, dua belas banyaknya yaitu: dharma, satya, tapa, dama, wimatsaritwa, hrih, titiksa, anasuya, yajña, dana, dhrti dan ksama. Dharma bersumber pada sifat Sattva. Tapa yakni disiplin mengendalikan jasmani dan mengekang hawa nafsu. Dama artinya keinsyafan, bisa menasihati diri sendiri. Wimatsaritwa artinya tidak bersifat iri dan dengki. Hrih artinya malu untuk berbuat salah atau tak-senonoh. Titiksa artinya mengendalikan diri untuk tidak sampai marah besar. Anasuya artinya jangan berbuat dosa. Yajña berarti senantiasa melaksanakan korban suci. Dana artinya berdana-punia. Dhrti artinya melaksanakan penenangan dan penyucian pikiran. Ksama artinya tahan cobaan dan suka memaafkan. Semua itulah brata Sang Brahmana.
Dalam pustaka suci Sarasamušcaya, tapa dimasukkan sebagai salah satu item pelaksanaan brata. Jadi, ia dapat dikatakan sebagai suatu paket praktek spiritual (sadhana).
Melakoni tapa brata dipandang sebagai satu prasyarat mutlak bagi upaya penggalangan kesucian batin, dalam ajaran Hindu.
Para bijak dan orang-orang suci mampu memberi berkah karena ketekunan beliau dalam melaksanakan tapa brata. Hal ini terungkap jelas pada Manawa Dharmaçastra; “Persembahan yang dilakukan kepada bijaksanawan (viprah) yang tinggi pengetahuan sucinya dan yang tekun dalam melaksanakan tapa-brata, memberi berkah selamat dari kesialan kecil maupun kesialan besar.(Manawa Dharmacastra III: 98).  lan, berbagai sumber.

Coba Monobrata

Melakukan monobrata berarti memutuskan hubungan dengan lingkungan untuk sementara. Model mabrata seperti ini, banyak manfaat yang bisa diambil.
Hampir setiap hari masyarakat disibukkan dengan berbagai aktivitas. Berbagai motivasi pula telah membentuk karakter manusia tersebut, sehingga kadang melupakan kaidah dan norma agama. Soal harta misalnya, orang seperti berlomba untuk mendapatkannya. Segala cara dilakukan, bahkan tanpa sadar mereka telah melanggarnya. Untuk mendapatkan kenikmatan sesaat yang sifatnya duniawi ini telah menyeret masyarakat semakin jauh dengan Tuhan-nya. Jangankan memikirkan karma yang akan didapatkannya kelak, hukum yang mengatur kehidupan duniawinya pun kerap dilanggar.
Di zaman Kali– begitu tokoh-tokoh  agama menyebut keadaan sekarang ini–, manusia sepertinya telah kehilangan akal sehat, meski tak sedikit yang masih mengikuti rel-rel kehidupan sesuai dengan agama. 
“Perlu ada instropeksi dan pengendalian diri secara mendalam,” ujar Pengasuh Ashram Gandi Puri Brahmacarya Indra Udayana.
Bagaimana cara melakukannya? Indra Udayana mengatakan cara yang sangat simpel. Cukup dengan meninggalkan rutinitas dan semua atribut berupa teknologi yang biasa digunakan, seperti ponsel dan alat komunikasi lainnya. “Dan, mungkin akan lebih mendukung bila kita melakukannya di suatu tempat yang agak jauh dari keramaian,” terangnya, seraya menyarankan untuk mencoba meninggalkan segala kesibukan untuk sehari saja.
Tujuannya, tak lain untuk mengistirahatkan pikiran, agar tidak selalu dipenuhi oleh berbagai aktivitas. Dari sinilah akan didapatkan ketenangan jiwa dan waktu cukup untuk memikirkan secara mendalam apa yang telah kita perbuat untuk kehidupan ini.
Mencoba melaksanakan Monobrata, merupakan pilihan yang bagus, meski terbilang cukup berat. Esensi pelaksanaan Monobrata, yakni  suatu cara untuk mengendalikan perkataan dengan tidak bicara selama waktu tertentu.
Mono (mona) artinya berdiam diri tidak bicara. Mono bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa bicara dengan penuh pengendalian, sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mono  juga berarti melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian. Sehabis sembahyang atau meditasi dan japa, lanjutnya,  biasakan melakukan mono atau membatasi berbicara. Hal ini akan bermanfaat untuk memberikan kesempatan pada berkembangnya ‘energi positif’ untuk menggeser ‘parasit energi’. “Energi positif dalam diri akan dapat memberikan kita kesehatan, ketenangan, dan kesucian,” terangnya.
Mengenai pelaksanaan tiga brata ini bisa dilihat dalam kisah Lubdaka, yang melakukan jagra (begadang), monobrata, dan upawasa, saat malam Siwaratri. Dalam Nitisastra disebutkan : Wasita nimittanta manemu laksmi, Wasita nimittanta pati kapangguh, Wasita nimittanta manemu dukha, Wasita nimittanta manemu mitra. Artinya : Oleh perkataan engkau akan mendapat bahagia, oleh perkataan engkau akan menemui ajal, oleh perkataan engkau akan mendapatkan susah, oleh perkataan engkau akan mendapat sahabat. 
Jadi, dapat diartikan, semua akibat yang didapat dalam kehidupan bisa disebabkan oleh perkataan. Disinilah bisa dilihat betapa perlunya melakukan Monobrata. Dan, perlunya melakukan pengendalian diri serta indria yang selama ini seolah telah menyetir dan menguasai hidup manusia.  Ditambahkannya, Monobrata tak hanya mengendalikan kata-kata, tapi seyogyanya menghentikan komunikasi dengan dunia luar, tanpa menghentikan komunikasi dengan Tuhan. Sehingga pikiran tak menjelajah pada ruang-ruang rumit untuk sementara waktu. 
Soal waktu,  tokoh umat yang juga dosen STAH Negeri Denpasar
Drs I Gede Rudia Adiputra MAg, mengatakan, hari yang  tepat untuk  melakukan Monobrata saat Siwaratri dengan bercermin pada kisah Lubdaka.  ”Brata yang utama dalam Siwaratri yaitu monobrata,” ucapnya. Monobrata bisa dilakukan  menyendiri, usahakan agar pikiran tak terpengaruh secara fisik. ”Sebab, bila pikiran terpengaruh dengan kehidupan luar, maka pelaksanaan brata hasilnya akan minimal,” katanya. Dikatakan hasil yang minimal, karena menurut Rudia tak ada istilah gagal dalam melakukan brata. Contoh hal-hal kecil yang dapat menyebabkan batalnya pelaksanaan Monobrata yaitu lingkungan dan teknologi. Sebab, bila saat melakukan brata, komunikasi bisa saja tetap berlangsung, meski hanya dengan bahasa isyarat. ”Kalau ada yang memanggil tak ditanggapi, tentu akan menyebabkan akibat kurang baik. Oleh karenanya kita perlu melakukan ini  menyendiri,” urainya. Sedangkan teknologi yang bisa menggangu, misalnya saja fasilitas SMS (Short Message Service). ”Brata baru bisa dikatakan berhasil bila telah berdampak pada kehidupan manusia tersebut.  Sebab, Monobrata salah satu langkah awal untuk mengendalikan tutur kata manusia dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. lan

Advertisements

Posted in Kejernihan | Leave a Comment »

Raja Pemburu Tokoh Spiritual

Posted by sekalaniskala on January 15, 2008

Raja Pemburu Tokoh Spiritual

Suatu kali, Raja Vivekapati dari Varanasi ingin mengetahui apakah di negaranya ada orang yang benar-benar berada dalam level spiritual. Untuk itu, ia meminta para menterinya untuk mencari seorang tokoh spiritual untuknya.
Menerima perintah Raja Vivekati, semua menteri dan penasihat kerajaan malah berlomba untuk memaklumkan diri mereka masing-masing sebagai orang spiritual. Tetapi, raja kenal betul tidak seorang pun di antara mereka yang memiliki sifat spiritual. Akhirnya raja Vivekapati memutuskan untuk mencarinya sendiri.
Didengar olehnya bahwa di sebuah goa, hiduplah seorang sadhu (orang suci) bernama Syama Sundara. Raja Vivekapati pergi ke sana tetapi melihat sang sadhu sedang tidur lelap. Padahal, sadhu tersebut telah mengumumkan dengan segala kesombongannya bahwa dirinya adalah seorang sadhu yang telah mampu mengalahkan rasa kantuk (dalam kitab-kitab suci rasa kantuk tersebut disamakan dengan kebodohan. Karena itulah Arjuna juga bernama Gudakesa, karena Arjuna telah mampu mengalahkan rasa kantuk).
Kedatangan Raja Vivekapati ke sana tidak diberitahukan terlebih dahulu, sehingga pelayan sadhu tersebut tidak sempat membangunkan sang sadhu yang sedang tertidur, dan juga tidak berani menghalangi sang raja. Sang raja membangunkan sang sadhu. Mengetahui raja sendiri yang datang ke tempatnya, Syamasundara berpura-pura sedang dalam meditasi. Ia memberitahukan sang raja bahwa karena sang raja sendiri yang membangunkannya dari meditasi yang sedang ia lakukan, maka ia tidak memberi hukuman. Seandainya orang lain melakukannya, mungkin ia sudah menghukum sangat keras karena telah mengganggu meditasi sangat penting yang dilakukan.
Raja Vivekapati tanpa memberikan argumen apa-apa, segera pergi dan mengambil keputusan bahwa sadhu Syamasundara hanya seorang yang berpura-pura, munafik dan penipu belaka. Jadi, tidak mungkin orang yang seperti itu spiritual.
Raja Vivekapati kemudian pergi ke tempat Jnana Shastri, seorang yang sangat terpelajar dan sangat terkenal dari Kashi/Benares, yang rumahnya penuh dengan ribuan buku tebal-tebal. Jnana Shastri mempelajari semua buku tersebut dengan sepenuh hati, sehingga ia mampu menyebutkan kalimat apa ada di halaman berapa dan di buku mana. Sang raja sangat takjub akan keterpelajarannya dan pengetahuannya yang mendalam tentang semua kitab-kitab suci tersebut.
Jnana Shastri mengetahui sang raja sangat terkesan atas kehebatannya, meminta agar sang raja mengangkatnya sebagai guru kerajaan. Sang raja berpikir bahwa jika seorang yang sangat terpelajar menginginkan pengakuan dan penghargaan seperti itu tidak mungkin spiritual. Sang raja pun pergi dari rumah Shastri tersebut.
Atas pemberitahuan seseorang, sang raja pergi ke tempat seorang Baba sakti, yang mampu mengeluarkan sesuatu dari tangan kosongnya. Di sana Vivekapati disambut sang Baba. Sang Baba segera mengeluarkan makanan yang lezat dari tangannya dan menyuguhkannya kepada raja. Sang raja pun menikmatinya sambil merasa takjub luar biasa atas kesaktian sang Baba. Tetapi ketika raja hendak pergi dari tempat itu, Baba meminta kepada raja untuk membangun rumah untuk dirinya. Sang raja mengabulkannya sambil berpikir, jika seorang Baba masih meminta sesuatu, mungkinkah ia seorang yang spiritual?
Raja Vivekapati kemudian pergi ke sebuah Ashram yang bernama Kripa Ashram, di mana Devasvami selalu memberikan ceramah kepada ribuan orang yang datang ke Ashram tersebut. Begitu sang raja sampai di tempat itu, Devasvami langsung berdiri tanpa menghiraukan orang yang mendengarkan ceramahnya, dan menyongsong sang raja sambil memuji-muji sang raja. Ia mulai berkoar mengenai apa yang dilakukannya dan prasasti-prasasti apa yang telah ia raih untuk memperlihatkan kepada sang raja betapa besar dirinya. Sang raja menjadi sangat kecewa melihat kebesaran ego dan kepandaiannya menjilat di dalam hati Devasvami yang tidak mungkin lambang dan sifat orang yang benar-benar spiritual.
Raja pergi ke tempat seorang pendeta terkenal yang ahli dalam melakukan puja dan segala macam upacara keagamaan. Saat itu sang raja menyamar sebagai orang kaya. Dan seorang raja mulai memberikan harga yang mahal terhadap upacara-upacara yang ia lakukan. Raja Vivekapati berpikir bahwa orang yang loba dan rakus seperti ini tidak mungkin orang yang spiritual.
Masih dalam penyamarannya, sang raja bertemu seoran ahli meditasi besar yang bernama Dhyana Svami yang segera menjadi sangat marah ketika sarang raja bertanya tentang meditasi, karena ia mengira bahwa dirinya sedang diuji. Sang raja segera sadar bahwa orang pemarah tidak mungkin, bahkan mustahil bisa mencapai spiritualitas yang sebenarnya.
Raja Vivekapati merasa sangat kecewa, dan musnah segala harapannya untuk menemukan seseorang yang spiritual sejati di negaranya. Tetapi kemudian mendengar orang-orang sedang membicarakan seorang mistik kebatinan yang bernama Sufirama yang terkenal sebagai seorang guru yang hebat, tetapi pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu, yang kelihatan bahkan seperti orang gila, tetapi terkenal dengan nasihat-nasihatnya yang sangat baik kepada orang-orang.
Raja Vivekapati pergi ke tempat Sufirama dan bertanya, “Apa yang telah Anda pelajari dan menjadi terkenal di seluruh pelosok negara?”
 “Sangat sederhana, ketika saya memotong kayu, saya hanya memotong kayu. Ketika saya membawa air dari sumur, saya hanya membawa air dari sumur,
” jawab Sufirama.
Sang raja mengatakan, telah banyak medengar tentang hal-hal spiritual. Omong kosong apa lagi semua ini? “Memotong kayu, Anda hanya memotong kayu. Semua tukang kayu melakukan hal yang sama, apa istimewanya dalam hal ini? Membawa air Anda hanya membawa air. Saya telah datang ke sini dari tempat yang sangat jauh dan saya adalah raja Anda. Seharusnya Anda setidak tidaknya memberi saya nasihat rohani,” papar raja.
Sufirama menegaskan, itulah nasihat siritualnya kepada raja, dan ingin memperjelasnya bahwa semua orang tidak melakukan demikian. “Bertahu-tahun saya belajar memotong kayu tanpa memikirkan apa-apa, untuk hanya berada di sana dan memotong kayu tanpa memikirkan apa-apa. Dan, hal itu indah sekali suara-suara di lembah keping-keping kayu yang terlempar, kesana kemari, angin yang berdesir melalui dedaunan, di antara pelohonan, nyanyian mereka, riuh suara burung dan binatang lainnya. Dan saya hanya diam, bisu hanya memotong. Begitu pula waktu membawa air setiap hari sama. Saya telah memberi secara singkat, pendekatan dasar saya terhadap hidup. Selalu di sini dan sekarang. Jangan biarkan pikiran pergi. Itulah yang namanya meditasi,” terangnya.
Demikianlah orang yang telah mempelajari bagaimana hidup tetapi pada saat yang sama tetap berada dalam spiritual, tidak sambilan, tidak di masa lalu dan tidak di masa yang akan datang. Orang yang selalu memikirkan masa lalu, lanjutnya, hidup di masa lalu, sesungguhnya ia telah mati. Demikianlah pada orang yang selalu berpikir tentang masa yang akan datang, hidup di masa yang akan datang, sesungguhnya ia belum lahir. Lantas apa yang ia lakukan dengan spiritualitas? Demikian pula orang yang sambilan, pikirannya akan kemana-mana dan orang yang demikian bagaimana ia mampu berkonsentrasi? Jangankan kepada Tuhan yang bersemayam dalam hatinya, pada pekerjaannya pun ia tidak mampu berkonsentrasi. Mungkinkah orang demikian mampu meditasi? Dengan selalu memposisikan diri ‘sekarang, di sini’ pelan-pelan bisa melatih kesadaran dan pikiran berkonsentrasi, di samping itu dengan selalu berada ‘di sini dan sekarang’, seseorang tidak akan menghabiskan waktu dalam lamunan yang sia-sia, karena akan sibuk melakukan yang terbaik dan akan selalu sadar akan Tuhan, dan ketika maut yang datang tanpa permisi menjemput, sepenuhnya dalam kesadaran. Hal itu disirtakan dalam kitab suci: ‘Yam yam wapi smaram bhawam, Tyajaty ante kalevaram, Tam tam evaiti kaunteya, Sada tad-bhava-bhavitah (Apa pun yang diingat oleh seseorang pada saat ia meninggalkan badannya, keadaan itulah yang ia capai pada kelahirannya yang akan datang, wahai putra Kunti).
Ditambahkannya, melakukan meditasi bukan berarti kita harus duduk dalam sikap tertentu, tetapi kita bisa melakukan meditasi dalam keadaan apa pun. Karena meditasi berarti mengingat. Meditasi adalah cara, bukan tujuan. Suatu cara untuk memusatkan pikiran pada sesuatu sehingga pikiran tidak berkeliaran ke mana-mana. Meditasi juga berarti sadar, sadar sedang melakukan kegiatan apa kita saat ini. Kadang orang hanyut dengan pikirannya yang menerawang ke mana-mana, ‘ terbawa oleh pikiran’. Sedang meditasi adalah ‘membawa pikiran itu’ dalam pengendalian kita, dan dengan sadar setiap saat kita akan mampu melatih pikiran.
Setelah pikiran terlatih, kita akan selalu mampu memusatkan pikiran kita kepada-Nya tanpa perlu lagi ‘berusaha’, tetapi secara otomatis pikiran akan terpusat. Tentu saja ada efek lain yang muncul, yaitu kita akan lebih tenang, lebih mampu menguasai diri dan amarah, bisa menerima apa adanya. Dengan semua itu, pikiran kita akan terpusat dengan sendirinya tanpa susah-susah dan hati pun akan terbuka. Dan, hidup kita akan menjadi ‘sembahyang’ tanpa harus sengaja melakukannya. Dengan hidup kita menjadi sembahyang itu sendiri, kebahagiaan rohani pun akan datang dengan sendirinya. Lalu, apalagi yang akan kita cari?
Moksartham jagadhita sudah pasti ditangan kita. Berbahagia di dunia ini, dan pasti berbahagia pula di alam sana, alam setelah kematian. N Prabu Dharmayasa, President of Divine Love Society

Posted in Kisah | Leave a Comment »

Bhagawadgita tentang Dana Punia

Posted by sekalaniskala on January 14, 2008

• Bab XVII.13 : ‘Vidhihinam asrstannam, mantrahinam adaksinam, sraddhavirahitam yannam, tamasam paricaksate (yadnya yang tidak sesuai dengan petunjuk, dengan tidak ada makanan yang dibagi-bagikan, tidak ada mantra, syair dinyanyikan, dan tidak ada dana punia daksina yang diberikan, tidak mengandung kepercayaan, mereka sebut yadnya yang tamasika, bodoh).
• Bab XVII.20 : ’Datavyam iti yad danam, diyate nupakarine, dese kale ca patre ca, tad danam sattvikam smrtam (pemberian dana yang dilakukan pada seseorang tanpa harapan kembalinya, dengan perasaan bahwa adalah kewajiban seseorang untuk memberi, serta diberikan pada tempat yang baik dan pada orang yang patut, dana itu disebut sattwika, baik).
• Bab XVII.21 : Yat tu pratyapakarartham, phalam uddisya vapunah, diyate ca periklistam, tad daram rajasam smrtam. (akan tetapi dana yang dilakukan dengan harapan dikembalikan atau dengan harapan keuntungan di kemudian hari atau berdana dengan tidak ikhlas dikatakan rajasika, bernafsu).
• Bab XVII.22 : Adesakala yad danam, apatrebhyas ca diyate, asatkrtam avajnatam, tat tamasam udahrtam. (Dan, dana yang dilakukan pada tempat atau waktu yang salah atau pada orang-orang yang tak patut, tanpa upacara yang sebenarnya atau dengan penghinaan, ini dikatakan tamasika, bodoh).  
Oleh
Bhagawan Dwija

Posted in Suluh | Leave a Comment »

Ritual

Posted by sekalaniskala on January 14, 2008

Segehan, Agar Buta Tak Murka

Tak hanya vertikal ke atas persembahan manusia Hindu ditujukan. Ke bawah pun dilakukan dalam wujud segehan. Satu di antara sekian jenis segehan itu ada diwujudkan seperti manusia.

Manusia dalam upayanya mengucap syukur selalu melakukan persembahan. Dalam persembahan tersebut, nasi menjadi satu komponen penting. Ia hadir dalam berbagai bentuk dan nama pada bebantenan Bali.
Selain berwujud tumpeng, nasi juga dipakai untuk membuat berbagai segehan yang dihaturkan di pertiwi. Pada umumnya dihaturkan pada kala bucara-bucari supaya tidak mengganggu. “Persembahan itu dihaturkan di bawah yaitu  di natar Merajan, rumah serta lebuh,” ujar  Dosen Agama UNHI Denpasar Dra Ni Wayan Wandri.
Yang di halaman (natar) rumah ditujukan kepada Sang Kala Bucari. Selain itu–  karena di natar rumah ditanam I Catur Sanak yaitu Ari-ari, Lamas, Getih, yeh nyom—, sebagai tanda manusia memberikan perhatian pada saudara empat-nya karena telah memberikan perlindungan,  baik secara sekala maupun niskala. 
Selanjutnya di natar sanggah pamerajan ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari. Lantas yang terakhir di depan pintu keluar (lebuh) ditujukan kepada Sang Durgha Bucari. “Karena tempat masegeh ada tiga, maka jenis segehan itu pun ada tiga,” urai I Wayan Gosio dari Bangli dalam bukunya berjudul  Cakepan Agamaning Segeh. Jenis segeh itu yaitu segehan pat (4) dihaturkan di natar rumah, segehan lima (5) di natar merajan dan segehan sia (9) di lebuh. Ketiga jenis segehan tersebut termasuk segehan umum yang dihaturkan oleh umat Hindu. Sedangkan segehan wong-wongan (ada juga yang menyebut nasi wong-wongan) menurut Wandri hanya dihaturkan orang yang nyungsung ataupun memiliki sakit tertentu. Jenis segehan ini dibentuk menyerupai wujud manusia, lengkap dengan kepala, leher, badan, tangan, dan kaki.  Tapi, ada juga hanya mengambil bentuk bagian tubuh manusia saja, seperti dada dan rusuk (nasi tangkah-iga).
“Kepada siapa segehan itu ditujukan sangat tergantung pada petunjuk balian-nya,” ujar Wandri. Ditambahkannya, bagi yang nyungsung segehan wong-wongan itu disuguhkan pada rencang (anak buah) Ida Bhatara junjungannya. 
Wandri memaparkan, wujudnya yang menyerupai manusia sebagai simbolisasi manusia sakit tersebut yang dipersembahkan sebagai labaan (persembahan) agar tak lagi menyakiti manusianya. “Tak hanya itu, segehan wong-wongan juga dipakai kala upacara magedong-gedongan,” tambahnya. Menurutnya, tujuan ritual yang dilakukan saat usia kehamilan mencapai tujuh bulan ini, untuk mohon kelancaran proses kelahiran bayi itu. Permohonan dengan segehan wong-wongan ini pun dihanyut di aliran air seperti sungai atau selokan dengan kepala menghadap hilir. “Dengan harapan agar si bayi juga lahir mengalir layaknya air, dan kepalanya  yang keluar lebih dulu,” ucapnya.
Biasanya, lanjut Wandri, segehan itu dibuat beralaskan don tlujungan (ujung daun pisang). Ukurannya disesuaikan dengan besar segehan yang akan dibuat. Paling tidak panjangnya seukuran dengan jarak bukaan tangan dewasa.
Ada pun perlengkapan untuk masegeh yaitu tirta, bunga, api takep dan tetabuhan berupa arak-berem. Yang disebut api takep adalah serabut kelapa yang dibelah dan dibakar lalu dicakupkan (takep) dengan serabut lainnya.
Namun bila tak ada api takep, Wandri mengisyaratkan bisa diganti dengan dupa. Karena dupa juga adalah api perlambang Bhatara Surya sebagai saksi persembahan tersebut. Tempat api takep atau dupa ini terletak di sebelah kanan segehan.
Diuraikan Gosio, menghaturkan segehan tak bisa dilakukan sembarangan. Urutannya, pertama-tama segehan itu diperciki tirta sebanyak tiga kali, lantas ucapkan mantra masegeh yang pertama, kemudian kembali diperciki tirta sebanyak tiga kali. Lanjutkan dengan ngayabang sesuai dengan jumlah segehan ke arah segehan. Setelah itu, Gosio mengharapkan yang menghaturkan segehan untuk berhenti sejenak. Ini sebagai pertanda memberikan waktu bagi yang dihaturkan agar menerima lelabaan berupa segehan itu. Setelah itu, ucapkan mantra kedua dibarengi dengan memerciki tirta tiga kali. Kemudian barulah matabuh arak-berem yang dituang memutar dari arah kiri ke kanan sebanyak tiga kali pula (lihat mantra masegeh).
Wandri menambahkan, segehan umumnya  berupa segehan manca warna, plupuhan (biasanya digunakan orang Singaraja), sliwah (selem barak), poleng (putih-hitam-putih) dan segehan putih kuning. Dan yang agak mengkhusus biasanya berupa segehan mapinda macan atau bisa juga mapinda naga.  
Seperti yang diutarakan Gosio,  untuk membuat segeh pat menggunakan nasi empat warna beralaskan tangkih . Lalu tangkih  ini beralas tamas dan masing-masing warna diletakkan sesuai dengan pangider bhuana. Merah (Selatan), Kuning (Barat), Hitam (Utara), Putih (Timur). Di tengah segehan itu berisi beras, 2 buah uang kepeng, base beralas tangkih , bawang, jahe, uyah areng. Sedangkan segehan lima sarananya nasi lima warna (panca warna) beralas tangkih, tempat masing-masing warna nasi itu pun disesuaikan. Untuk yang berwarna brumbun diletakkan di tengah. Kelengkapan lainnya di tengah segehan berisi beras, uang kepeng dua biji, base beralas tangkih, bawang, jahe, pedes, uyah areng serta canang yasa.  Segehan sia dibuat dari nasi putih. Penempatannya disesuaikan dengan wujud Dewata Nawa Sanga.   Sarana pelengkapnya sama dengan kedua segehan tadi.

Posted in Ritual | Leave a Comment »

Inguh, Enam Kali Kecelakaan

Posted by sekalaniskala on January 14, 2008

Meski mengaku tidak ada firasat ataupun pawisik sebelum didiksa menjadi Jro Mangku di Pura Kehen, Jro Pasek Pura Kehen mengaku enam bulan terakhir sebelum didiksa mengalami enam kali kecelakaan berturut-turut.

Anehnya, setiap kali kecelakaan Jro Pasek tidak sedikit pun terluka, padahal motor yang dikendarainya rusak berat.  Tidak hanya itu, di bidang pekerjaan, Jro Pasek tidak pernah bisa fokus untuk menggeluti satu pekerjaan.
“Paling lama tiga bulan tiang bekerja di satu tempat, setelah itu bosan dan memilih untuk mengundurkan diri. Selain itu, setiap pulang ke rumah tidak pernah betah dan selalu dihinggapi perasaan inguh (bingung)” papar Jro Pasek yang lahir 2 Mei 1982 silam. 
Baik Jro Pasek maupun orangtuanya tidak pernah menduga jika kejadian-kejadian yang menimpanya tersebut merupakan sebuah pertanda. Sampai akhirnya pada tahun 2003 lalu, warga setempat melakukan nyanjan (mohon petunjuk secara niskala) di tiga tempat dalam satu hari secara bersamaan, yakni di Desa Sekaan (Kintamani), Tegal Tugu (Gianyar) dan Undisan (Tembuku).
Dari tiga tempat tersebut, dua di antaranya yakni di Undisan dan di Sekaan menyatakan Jro Pasek harus menjadi Pemangku di Pura Kehen, sedangkan yang di Tegal Tugu, informasi yang didapat kurang jelas.
Atas dasar tersebut, maka pada Sukra Kliwon Watugunung, tepatnya 31 Oktober 2003, Jro Pasek yang saat itu baru berusia 21 tahun disaksikan Bupati dan Kelian Adat setempat didiksa sebagai Jro Pasek Pura Kehen.
Mengingat saksi pada waktu padiksaan tersebut hanya beberapa orang, baru pada upacara Ngusaba Dewa atau sering juga disebut Karya Agung Ida Bhatara Turun Kabeh pada Purnama Kalima, Saniscara Pon wuku Sinta, Jro Pasek didiksa di Pura Kehen disaksikan seluruh umat yang sembahyang saat itu.
Setelah menjadi Pemangku di Pura Kehen, Jro Pasek mengaku mendapat ketenangan batin. Disinggung mengenai kecelakaan yang kerap dialaminya, Jro Pasek mengaku bersyukur sampai saat ini tidak lagi pernah terjadi. “Lagipula saat ini tiang jarang keluar rumah, apalagi menggunakan motor,” beber Jro Pasek Pura Kehen. deni

Posted in yatra | Leave a Comment »

Pura Kehen Bangli

Posted by sekalaniskala on January 14, 2008

Patahnya Beringin Tanda Grubug

Pura Kehen yang terletak di Desa Cempaga, Bangli, memiliki banyak keunikan. Selain letaknya yang strategis, pada pintu masuk pura tidak
menggunakan Candi Bentar seperti pada Pura Kahyangan Jagat umumnya.
Pintu masuk Pura Kehen memang agak berbeda, yakni menggunakan Candi Kurung. Di samping itu, keberadaan Bale Kulkul pada batang pohon Beringin turut memberi warna lain bagi Pura Kehen yang menjadi salah satu objek pariwisata unggulan Kota Bangli.
Meski telah ditemukan tiga prasasti tentang Pura Kehen, namun belum dapat dipastikan kapan sejatinya pura tersebut didirikan, dan apa yang menjadi asal-usul nama Kehen itu sendiri. Berdasarkan prasasti
ketiga yang berangka tahun 1204 Masehi disebutkan beberapa pura yang mempunyai hubungan kesatuan meliputi Pura Hyang Hatu, Hyang Kedaton, Hyang Daha Bangli, Hyang Pande, Hyang Wukir, Hyang Tegal, Hyang Waringin, Hyang Pahumbukan, Hyang Buhitan, Hyang Peken Lor, Hyang Peken Kidul dan Hyang Kehen.
Kehen sendiri diperkirakan berasal dari kata keren (tempat api), bila  dihubungkan dengan prasasti pertama yang berbahasa Sansekerta– namun tidak berangka tahun—di mana di dalamnya menyebutkan kata-kata Hyang Api, Hyang Karinama, Hyang Tanda serta nama-nama biksu.
Jro Pasek Pura Kehen sebagai salah satu Dangka di Pura Kehen mengaku belum begitu banyak mengetahui terkait sejarah Pura Kehen, terlebih Jro Pasek yang masih berusia 23 tahun ini baru satu setengah tahun menjadi Jero Mangku di Pura Kehen. Meski belum mengetahui terkait sejarah Pura Kehen, namun keunikan atau kejadian mistis yang pernah terjadi di Kehen pernah didengarnya dari cerita orangtua.
Seperti halnya munculnya ula (ular) duwe pada tahun 1960 pagi, saat itu masyarakat setempat yang baru saja selesai menyapu di jaba pura menyaksikan secara langsung munculnya ular duwe tersebut.
Selain itu, masyarakat setempat sangat percaya jika patahnya pohon beringin yang terdapat di pura sebagai pertanda grubug (musibah). Hal tersebut disimpulkan dari kejadian-kejadian yang pernah terjadi secara turun temurun.
Tidak hanya itu, letak bagian yang patah juga diyakini sebagai pertanda musibah tersebut akan melanda orang tertentu. Misalnya pada saat raja Bangli meninggal dunia, dahan pohon beringin yang letaknya di Kaja Kangin (Utara-Timur) patah. Kemudian jika ada pendeta yang meninggal, maka dahan pohon beringin sebelah Kaja Kauh (Barat Daya) patah. Sedangkan jika bagian yang patah letaknya Kelod Kangin (Timur Lau) dan Kelod Kauh (Tenggara) maka diyakini akan ada musibah yang menimpa masyarakat.
Terkait upacara, karya di Pura Kehen Bangli berlangsung setiap enam bulan sekali tepatnya pada Hari Raya Pagerwesi yakni setiap Buda Kliwon Wuku Sinta. Namun, upacara besarnya yaitu Ngusaba Dewa atau biasa disebut Karya Agung Bhatara Turun Kabeh berlangsung setiap tiga tahun sekali, tepatnya Purnama Kalima, Saniscara Pon Wuku Sinta. Selain itu, upacara kecil seperti Saraswati, Ulian Sugimanik, Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon serta Buda Kliwon juga dilangsungkan di Pura Kehen.
Sebagai Pura Kahyangan Jagat, setiap upacara yang dilaksanakan di Pura Kehen, desa yang tergabung dalam Gebog (tatanan masyarakat) Domas (800) dan Bebanuan Pura Kehen memiliki peran masing-masing, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Dalam hal wewangunan
misalnya, Banjar Kawan bertanggung jawab untuk membangun warung matanding, Banjar Tegal membuat Penyawang, Sanggar Tawang Tutuan, Bale Gading dan Bale Timbang. Banjar Pekuwon membangun warung pamuspaan, Banjar Pule membangun warung ilen-ilen, Banjar
Blungbang membangun warung mejahitan. Untuk Banjar Gunaksa dan Sidembunut bertugas membangun linggih bhatara Perampean, Banjar Kubu membangun linggih bhatara Melasti, tutuan, panggungan dan
pawedaan. Banjar Geria membangun sanggar agung peselang, sanggar agung pemalik sumpahan. Banjar Bebalang membangung Bale Perayungan dan Banjar Nyalian membangun warung peratengan.
Pembagian tugas tersebut dilakukan berdasarkan dresta dan sukat yang telah dilaksankan dari tahun-ketahun dan tidak akan pernah diubah atau ditukar-tukar. Selain sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tugas masing-masing, juga memunculkan semangat kebersamaan
dan saling memiliki terhadap karya yang berlangsung di Pura Kehen.
Pemangku di Pura Kehen berjumlah 33 orang yang terbagi atas dua golongan, yakni Dangka dan Pemaksan. Dangka terdiri dari 16 orang pemangku yang bertugas sebagai pangempon khusus perampean atau pelinggih-pelinggih di jeroan. Sedangkan Pemaksan yang terdiri dari 17 orang bertugas sebagai pembantu Dangka. N deni

Posted in yatra | Leave a Comment »

Selamat Datang di Sekalaniskala.wordpress.com

Posted by sekalaniskala on January 14, 2008

Blog ini sedang dibangun. Setiap hari akan selalu ada kejutan sekala niskala. Ingin tahu sekala niskala kunjungi selalu sekalaniskala.wordpress.com

Posted in Kejernihan | 1 Comment »